Sabtu, 05 Desember 2015

Puisi(ndiran)

Kau ini Bagaimana atau Aku harus bagaimana


Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana
(A. Mustofa Bisri)


puisi itu pertama kali saya baca di timeline facebook senior saya. Bisa dibilang puisi itu menggambarkan apa yang saya rasakan saat ini. Saat dimana tahun ketiga sebagai tombak dalam pergerakan organisasi kampus. Huffft Hmmmm


7:16 PM
in my brother's room and upload from his laptop
thanks bro! wkwkwk

Just wanna write what I feel

Yeah, long time no see this blog wkwkwk.
Sekarang saya (mungkin) dalam titik jenuh hahaha. Mungkin ini puncak pencarian jati diri saya sendiri. Wkwkwk
Meskipun terasa berat dan bosan tapi saya tetap menikmati momen ini. Cause someone said that time flies, but no memory (kalo ga salah sih gtu isinya). Wkwkwk
Yap saya adalah orang yg sangat enjoy belajar dinamika hidup yang penuh dengan rasa-rasa hahaha. Kesenangan saya dalam belajar dinamika hidup tak seperti belajar dinamika kimia 6 sks di bangku kuliah. Wakakakak jd curhat nih hahaha (but its true! Hahaha)
Yah dulu saya pernah merasakan jd nomor satu (I mean top level in my circle) hehehe. Tapi sekarang yang saya rasakan adalah kebalikannya. Dimana sudah bukan menjadi no 1 lagi, tapi menjadi orang biasa yang melihat orang lain menjadi nomor 1 😂
Saya selalu berpikir kenapa saya berubah seperti ini. Salah satu alasan yang saya akui ya sepertinya saya "bosan" hahaha. Atau bisa jadi karena merasakan "hal baru" yang belum pernah saya rasakan sebelumnya 😂😂😂😂
So maybe theres a lot of reason that change my life. Hahahaha
Belive or not after write this post I feel soooo relax 😆😆😆 may be i have to write what i feel later 😅


15.21
Saturday, Dec 5th 2015
Di dalam angkot dalam perjalanan pulang ke rumah Gresik